On 00.48 by Anonim in
2.1  Load Balancing
            Jie Chang et al (2010) menyebutkan bahwa “load balancing adalah sebuah metode untuk memperkuat kapabilitas pemrosesan data yang bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan ketersediaan sebuah jaringan”.
Kondisi jaringan yang dinamis dan sering kali tidak terprediksi menyebabkan sebuah algoritma load balancing memiliki kompatibilitas yang tinggi dengan beberapa kondisi jaringan tertentu, sementara algoritma load balancing lainya memiliki kompatibilitas yang lebih rendah pada jaringan tersebut (Kang Xi et al, 2011 : 2).
            Jie Chang et al (2010) dalam penelitiannya menyebutkan beberapa kelebihan implementasi load balancing secara umum, yaitu :
1. Waktu respon akses yang lebih cepat dibandingkan dengan pembagian jalur secara statik, ini dikarenakan beban dibagi ke dalam beberapa jalur sehingga beban pada masing-masing jalur menjadi lebih ringan.
2. Pengaturan untuk mencegah terjadinya penumpukan beban pada salah satu jalur, atau bisa dikatakan pemerataan pembebanan pada masing – masing jalur.
3. Dapat memisahkan dan mengatur jaringan nasional dan internasional agar tidak terjadi saling tarik menarik bandwidth pada jaringan sistem tersebut.
4. Memperkecil kemungkinan terjadinya deadlock trafic yang sering kali terjadi pada perusahaan atau instansi.
5. Redundansi, bilamana salah satu server mati maka koneksi ke jaringan internet dapat tetap berjalan karena menggunakan lebih dari 2 ISP.

            Pemerataan beban yang ada dalam sistem load balancing bukan pemerataan kapasitas yang diberikan dari masing–masing ISP, melainkan pemerataan beban untuk masing–masing client, sebagai contoh jika ada 3 buah ISP yang digunakan pada sistem, dengan kapasitas bandwidthsebagai berikut:
1.    ISP 1 1Mbps
2.    ISP 2 2Mbps
3.    ISP 3 500Kbps

            Yang akan dilakukan sistem load balancing bukan menambahkan menjadi 3.5Mbps, tetapi beban yang dilakukan oleh satu client menjadi sama atau bisa dibilang rata dengan client lainya
            Beberapa algoritma load balancing yang dipakai berdasarkan informasi dari Cisco Service Moduleberjudul Understanding CSM Load Balancing Algorithms dengan nomor dokumen 28580, yang dapat diakses dari situs resmi Cisco, adalah sebagai berikut:
·         Round Robin. Sebuah algoritma pembagian beban secara bergiliran dan berurutan dari satu jalur ke jalur lain.
·         Least Connection. Sebuah algoritma pembagian beban berdasarkan banyaknya koneksi yang sedang dilayani oleh sebuah server. Server dengan pelayanan koneksi yang paling sedikit akan diberikan beban yang berikutnya akan masuk.
·         Weighted Round Robin and Weighted Least Connection. Adalah algoritma pembagian beban secara Round Robin dan Least Connection dengan penambahan parameter performance pembebanan pada masing-masing server.
·         Source and/or Destination IP Hash. Adalah algoritma pembagian beban yang bekerja dengan melakukan pemetaan berdasarkan alamat IP yang ada dalam request yang menuju ke sebuah server. Dalam algoritma ini, parameter subnet mask juga diperhitungkan.
·         Uniform Resource Locator (URL) hashing. Adalah algoritma pembagian beban yang bekerja dengan melakukan pemetaan berdasarkan sebagian atau seluruh URL.
·         Menurut hasil analisa jalur dengan sarana probe. Metode ini menggunakan sarana probe, yaitu pemeriksaan kondisi sebuah jalur dengan mengirimkan sebuah data kosong melalui jalur tersebut. Hasil analisa tersebut kemudian akan menentukan pembagian beban pada jalur yang ada (Kang Xi et al , 2011: 4).
Sementara algoritma load balancing yang digunakan dalam sistem MikroTik routerOS yang dapat dilihat pada situs www.wiki.mikrotik.com adalah:
·           Nth. Adalah algoritma pembagian beban dengan melakukan penandaan pada paket sejumlah nilai yang ditentukan secara berurutan dan pembagian beban dapat dilakukan berdasarkan nilai yang sudah diberikan pada paket.
·           Per Connection Classifier(PCC). Adalah algoritma pembagian beban dengan melakukan penandaan connection sesuai dengan algoritma hashing dimana parameter yang diolah dalam proses hashing tersebut diatur oleh user dan pembagian beban dapat dilakukan berdasarkan nilai pada connectiontersebut.

Metode load balancing yang disebutkan diatas sebetulnya merupakan proses penandaan yang merupakan fitur dalam MikroTik routerOS, dimana kemudian pembagian beban dilakukan berdasarkan hasil pembagian tersebut dengan menggunakan routing policy yang ditentukan oleh user. Keseluruhan proses ini adalah metode load balancing yang ditawarkan oleh MikroTik. 
On 22.45 by Anonim in



Bertemu lagi dengan  saya Een Pahlefi, Kali ini saya akan memberikan tips dan trik, bagaimana caranya ketika kita di hadapkan dengan sesuatu permasalahan pada ubuntu server.

Bermula saya menemukan di ubuntu server, ping ke luar bisa, tetapi ping kediri sendiri/localhost tidak bisa.
Untuk mengatasi itu ternyata ada kesalahan di ubuntu server.

Pertama anda login ke ubuntu anda, trus edit di bagian nano /proc/sys/net/ipv4/icmp_echo_ignore_all
ubah dari 1 menjadi 0

Dan liat hasil nya.
On 02.27 by Anonim
Bertemu lagi dengan saya Een Pahlefi. Kali ini saya akan berbagi cracks amtlib.dll full version. Silahkan download langsung Download

Jangan lupa komentar nya ^^

Penulis : Een Pahlefi
Semoga Bermanfaat
On 21.56 by Anonim in

Scripting
Scripting
Kata Pengantar
Terkadang kita membutuhkan sebuah atau beberapa rule yang bisa kita jalankan pada kondisi tertentu, jiak berdasarkan waktu, kita mungkin bisa buat scheduler. Akan tetapi, kita misalnya ingin mendisable beberapa rule dengan kriteria tertentu, jika kita lakukan manual tentu akan sangat merepotkan. Nah disini scripting mikrotik dibutuhkan. Pada dasarnya scripting mikrotik tidak jauh beda dengan scripting bahasa lainnya, misal php atau lainya. Konsepnya masih sama bahkan jika dilihat sekilas dia seperti menggunakan bahasa Perl, hanya mungkin beda kata atau karakter. Jika sebelumnya Anda pernah belajar pemrograman, tentu scripting di mikrotik bukan hal yang sulit. Dan pada tulisan ini, saya akan menyampaikan beberapa dasar scripting di mikrotik.
Struktur Script
Scripting di RouterOS bisa dilakukan dalam beberapa baris, dan nantinya script akan diekseskusi satu demi satu. Struktur scripting pada command line RouterOS seperti berikut :
[prefix] [path] command [uparam] [param=[value]] .. [param=[value]]
Keterangan :
[prefix] = “:” atau “/” karakter yang mengindikasikan bahwa command merupakan ICE (karakter yg mengindikasikan global command) atau path. Karakter ini, .bisa dibutuhkan, bisa juga tidak
[path] = Path yang bersifat relatif untuk menentukan menu level. Bisa dibutuhkan, bisa juga tidak
command = Prrintah yang tersedia pada level menu tertentu.
[uparam] = parameter tanpa nama, harus dispesifikasikan terlebih dahulu jika command membutuhkannya.
[params] = Urutan parameter yang sudah dikenal yang memiliki nilai tertentu.
*Umm..saya juga sedikit bingung maksud keterangan diatas, kalau Anda ahli bahasa inggris, disarankan baca wiki.
Setiap akhir dari command pasti diakhiri dengan tanda “;” atau dengan baris baru, dan terkadang akhir command tidak butuh keduanya. Well, agak rumit memang, seperti ketika Anda mendengar jawaban “terserah”.
Single command yang berada di dalam (), [] or {}  tidak membutuhkan karakter tanda akhir command. Akhir dari command ditentukan dari seluruh script, contoh :
:if ( true ) do={ :put "tralala" }
Jika ada command kedua di dalam sebuah command, maka harus diampit tanda “[]“. Contoh :
:put [/ip route get [find gateway=1.1.1.1]];
Anda bisa lihat rule diatas memiliki 3 perintah :
  1.  :put = menampilkan nilai di terminal
  2. /ip route get  = mencari rule route
  3. find gateway=1.1.1.1 = menentukan rule route yang memiliki parameter gateway=1.1.1.1
Membuat Komentar
Komentar diawali dengan tanda hashtag atau “#” kemudian dikuti karekter komentar. Perlu diketahui, tanda “#” yang berada didalam variable string tidak akan dianggap sebagai komentar, namun dianggap bagian dari string. Contoh penguunaan command :
# Ini adalah komentar
# Komentar yang tidak baik, ada spasinya.
:global a; # Ini juga bukan cara menulis komentar yang baik
:global myStr "Di-reject Jenita Janet # ini bukan komentar, tapi string"
Membuat Script Beda Baris
Jika dirasa terlalu panjang atau memang ingin dibuat beberapa baris perintah, perintah bisa digabungkan dengan menambahkan karakter backslash “/” di ujung. Perlu diketahui, tanda backflash, tidak dapat digunakan pada komentar. Contoh penerapan :
:if ($a = true \
and $b=false) do={ :put “$a $b”; }
:if ($a = true \ # bad comment
and $b=false) do={ :put “$a $b”; }
# comment \
continued – invalid (syntax error)
Spasi (Daerah Kosong)
Seperti pada bahasa pemrograman pada umumnya, spasi ini kadang dibutuhkan, kadang tidak boleh digunakan, dan kadang harus digunakan, tergantung syntax apa spasi ini si impementasikan. Spasi tidak boleh digunakan pada systax ’<parameter>=’,  ’from=’ ,’to=’ , ‘step=’,  ’in=’,  ’do=’ , ‘else=’. Contoh penerapan
#contoh yang salah :
:for i from = 1 to = 2 do = { :put $i }
#contoh yang benar :
:for i from=1 to=2 do={ :put $i }
:for i from= 1 to= 2 do={ :put $i }
#contoh yang salah
/ip route add gateway = 3.3.3.3
#contoh yang benar
/ip route add gateway=3.3.3.3
Variable dan Cakupannya
Berdasarkan cakupanya, ada 2 jenis variable, :local dan :global. Globar mencakup seluruh script dan bisa dikenali dalam beberapa baris perintah, sedangkan local, dia hanya akan dikenali dalam satu struktur perintah. Variable global tidak bisa didefinisaikan didalam local scope. Contoh sederhana penerapan variable:
[admin@MikroTik] > :local myVar a;
[admin@MikroTik] > :put $myVar
syntax error (line 1 column 7)
Debugging
Sebenarnya ini hanya sekedar Tips & Trik saja, namun bagi saya debungging atau mencari kesalahan script adalah dengan menampilkan value. Biasanya kalau saya belajar java, saya tinggal tulis “print”, dengan VB “msgbox”.  Nah, di mikrotik, caranya dengan perintah “:put”.
[admin@MikroTik] > :put "Haloo"
Haloo
[admin@MikroTik] >
Bagi saya pribadi :put ini sangat bermanfaat dimana saya bisa menelusuri kesalahan dengan menampilkan masing – masing value pada beberapa perintah. Bisa juga untuk menampilkan Variable.
[admin@MikroTik] > :local MyVar "Halo Dunia"; :put $MyVar
Halo Dunia
[admin@MikroTik] >
Operasi Matematika
Mikrotik juga support untuk melakukan perhitungan matematika.
OperatorKeteranganContoh
“+”Menjalankan perintah penjumlahan:put (3+4);
“-”Menjalankan perintah pengurangan:put (1-6);
“*”Menjalankan perintah pengalian:put (4*5);
“/”Menjalankan perintah Pembagian:put (10 / 2); :put ((10)/2)
“-”Menjadikan bilangan negatif{ :local a 1; :put (-a); }
Operasi Logika
OpearatorKeteranganContoh
“!” , “not”logical NOT:put (!true);
“&&” , “and”logical AND:put (true&&true)
“||” , “or”logical OR:put (true||false);
“in”:put (1.1.1.1/32 in 1.0.0.0/8);
Perintah Perulangan
CommandSyntaxKeterangan
do..while:do { <commands> } while=( <conditions> ); :while ( <conditions> ) do={ <commands> };Menjalankan perintah sampai menemukan kondisi tertentu
for:for <var> from=<int> to=<int> step=<int> do={ <commands> }Menjalankan perintah sesuai jumlah perulangan yang ditentukan.
foreach:foreach <var> in=<array> do={ <commands> };Menjalankan perintah pada setiap element yang ada didalam daftar perintah.
Contoh Penggunaan Perintah Diatas :
Do While :
{:global i 10; :do {:put $i; :set i ($i - 1);} while (($i < 11) && ($i > 0))};
For :
:for i from=1 to=100 step=37  do={:put ($i)}
Foreach :
:foreach i in=[/interface find type=ether ] do={:put ("+--" . [/interface get $i name])};
Perintah Kondisi
Perintah yang dijalankan pada kondisi tertentu bisa dibuat dengan peintah “If”, dengan struktur perintah :
:if(<condition>) do={<commands>} else={<commands>} <expression>
Contoh Penggunaan :
{
:local myBool true;
:if ($myBool = false) do={ :put "value is false" } else={ :put "value is true" }
}
Command Lainnya
CommandSyntaxKeteranganContoh
/Kembali ke root menu.
..Kembali ke satu menu level.
?Menampilkan perintah yang tersedia.
global:global <var> [<value>]Mendefinisikan variable global.:global myVar “something”; :put $myVar;
local:local <var> [<value>]Mendefinisikan variable local.{ :local myLocalVar “I am local”; :put $myVar; }
beep:beep <freq> <length>Membuat bunyi beep.
delay:delay <time>Berhenti selama waktu yang ditentukan.
put:put <expression>Menampilkan argumen pada console.
len:len <expression>Menampilkan panjang string atau jumlah elemen array.:put [:len "length=8"];
typeof:typeof <var>Menampilkan tipe data variable.:put [:typeof 4];
pick:pick <var> <start>[<end>]Mengambil nilai substring atau elemen array, jika tidak ada informasi berapa panjang range yang akan diambil, maka hanya akan diambil 1 saja.:put [:pick "abcde" 1 3]
log:log <topic> <message>Menulis pesan ke dalam log, dengan topics yang tersedia adalah “debug, error, info and warning”.:log info “Hello from script”;
time:time <expression>Menentukan interval waktu dalam menjalankan perintah.:put [:time {:for i from=1 to=10 do={ :delay 100ms }}];
set:set <var> [<value>]Memberikan nilai pada suatu variable.:global a; :set a true;
find:find <arg> <arg> <start>Menemukan nilai berdasarkan kriteria string atau array.:put [:find "abc" "a" -1];
environment:environment print <start>Mencetak informasi variable yang diketahui.:global myVar true; :environment print;
terminalPerintah terminal.
error:error <output>Menampilkan error pada console dan berhenti menjalankan script.
parse:parse <expression>Menyimpan perintah pada sebuah variable, bisa dijadikan sebagai fungsi.:global myFunc [:parse ":put hello!"];$myFunc;
resolve:resolve <arg>Menampilkan ip address dari sebuah DNS:put [:resolve "www.mikrotik.com"];
toarray:toarray <var>Mengubah variable ke array
tobool:tobool <var>Mengubah variable ke boolean
toid:toid <var>Mengubah variable ke internal ID
toip:toip <var>Mengubah variable ke IP address
toip6:toip6 <var>Mengubah variable ke IPv6 address
tonum:tonum <var>Mengubah variable ke integer
tostr:tostr <var>Mengubah variable ke string
totime:totime <var>Mengubah variable ke time
Sebenarnya masih banyak yang bisa dipelajari dari scripting mikrotik ini, akan tetapi artikel pada kali ini cukup sampai disini saja. Selain capek nulisnya, kebetulan penulis merasa cukup mengantuk. Jika Tuhan menghendaki, artikel mengenai scripting ini akan dilanjutkan pada judul yang baru. Terima kasih.
On 01.17 by Anonim
Bertemu lagi dengan saya Een Pahlefi. Suatu ketika saya baru saja menginstall xampp-win32-1.8.3-3-VC11 bertujuan ingin mengintall wordpress dengan jaringan local.

Ternyata setelah saya sukses saya install, saya ingin mengakses xamp saya di komputer client, eh ternyata muncul pesan New XAMPP security concept, maksudnya apa? ternyata XAMP tidak mengijinkan dirinya di akses di jaringan client, karna secara default dia sudah mengunci dirinya sendiri agar tidak bisa di akses untuk alasan keamanan, tetapi bagaimana kah caranya agar bisa akses? Tentu kita harus membuka nya di C:\xamp\apache\conf\extra. dan buka dengan notepadd ++/ wordpad http-xamp dan tambahkan
Order deny,allow
Deny from all
Allow from ::1 127.0.0.0/8 

Allow from all











Dan terakhir jangan lupa restart service apache dan mysql nya












Semoga Bermanfaat
Penulis : Een Pahlefi
On 02.56 by Anonim
On 00.05 by Anonim

Setup


The steps in this tutorial require the user to have root privileges. You can see how to set that up in the Initial Server Setup. 

Before working with wordpress, you need to have LAMP installed on your virtual private server. If you don't have the Linux, Apache, MySQL, PHP stack on your VPS, you can find the tutorial for setting it up in the Ubuntu LAMP tutorial. 

Once you have the user and required software, you can start installing wordpress!

Step One—Download WordPress


We can download Wordpress straight from their website:
wget http://wordpress.org/latest.tar.gz

This command will download the zipped wordpress package straight to your user's home directory. You can unzip it the the next line:
tar -xzvf latest.tar.gz 

Step Two—Create the WordPress Database and User


After we unzip the wordpress files, they will be in a directory called wordpress in the home directory. 

Now we need to switch gears for a moment and create a new MySQL directory for wordpress. 

Go ahead and log into the MySQL Shell:
mysql -u root -p

Login using your MySQL root password, and then we need to create a wordpress database, a user in that database, and give that user a new password. Keep in mind that all MySQL commands must end with semi-colon. 

First, let's make the database (I'm calling mine wordpress for simplicity's sake; feel free to give it whatever name you choose):
CREATE DATABASE wordpress;
Query OK, 1 row affected (0.00 sec)

Then we need to create the new user. You can replace the database, name, and password, with whatever you prefer:
CREATE USER wordpressuser@localhost;
Query OK, 0 rows affected (0.00 sec)

Set the password for your new user:
SET PASSWORD FOR wordpressuser@localhost= PASSWORD("password");
Query OK, 0 rows affected (0.00 sec)

Finish up by granting all privileges to the new user. Without this command, the wordpress installer will not be able to start up:
GRANT ALL PRIVILEGES ON wordpress.* TO wordpressuser@localhost IDENTIFIED BY 'password';
Query OK, 0 rows affected (0.00 sec)

Then refresh MySQL:
FLUSH PRIVILEGES;
Query OK, 0 rows affected (0.00 sec)

Exit out of the MySQL shell:
exit

Step Three—Setup the WordPress Configuration


The first step to is to copy the sample wordpress configuration file, located in the wordpress directory, into a new file which we will edit, creating a new usable wordpress config:
cp ~/wordpress/wp-config-sample.php ~/wordpress/wp-config.php

Then open the wordpress config:
sudo nano ~/wordpress/wp-config.php

Find the section that contains the field below and substitute in the correct name for your database, username, and password:
// ** MySQL settings - You can get this info from your web host ** //
/** The name of the database for WordPress */
define('DB_NAME', 'wordpress');

/** MySQL database username */
define('DB_USER', 'wordpressuser');

/** MySQL database password */
define('DB_PASSWORD', 'password');
Save and Exit.

Step Four—Copy the Files


We are almost done uploading Wordpress to the virtual private server. The final move that remains is to transfer the unzipped WordPress files to the website's root directory.
sudo rsync -avP ~/wordpress/ /var/www/

Finally we need to set the permissions on the installation. First, switch in to the web directory:
cd /var/www/

Give ownership of the directory to the apache user.
sudo chown username:www-data /var/www -R 
sudo chmod g+w /var/www -R

From here, WordPress has its own easy to follow installation form online. 

However, the form does require a specific php module to run. If it is not yet installed on your server, download php-gd:
sudo apt-get install php5-gd

Step Five—RESULTS: Access the WordPress Installation


Once that is all done, the wordpress online installation page is up and waiting for you: 

Access the page by adding /wp-admin/install.php to your site's domain or IP address (eg. example.com/wp-admin/install.php) and fill out the short online form (it should look like this).

See More


Once Wordpress is installed, you have a strong base for building your site.

If you want to encrypt the information on your site, you can Install an SSL Certificate